Dari Real Madrid hingga Chelsea, triliunan rupiah digelontorkan demi prestasi—namun tak selalu berbanding lurus dengan gelar juara.
Prestasi di sepak bola modern tak bisa dilepaskan dari kekuatan finansial. Gaji pemain, bonus pelatih, fasilitas latihan, hingga belanja pemain di bursa transfer menuntut dana besar. Tanpa sokongan uang yang kuat, mimpi meraih gelar juara kerap berakhir di angan-angan.
BACA JUGA ; Akhirnya Terjawab! Manchester United Umumkan Nasib Casemiro di Old Trafford
Fenomena ini paling kentara terlihat di liga-liga elite Eropa, terutama Premier League. Hampir seluruh klub di kasta tertinggi Inggris kini dimiliki pengusaha superkaya, baik lokal maupun asing. Namun, fakta menariknya, uang melimpah tidak selalu menjamin kesuksesan instan di atas lapangan.
Chelsea menjadi contoh nyata. Klub asal London Barat itu disebut telah menghabiskan sekitar 243 juta euro atau setara Rp4,66 triliun demi membangun skuad kompetitif pada musim 2025/2026. Sayangnya, investasi besar tersebut belum menghasilkan dampak signifikan.
Nama-nama seperti Dario Essugo, Liam Delap, Mamadou Sarr, Joao Pedro, Jamie Gittens, Jesse Derry, hingga Jorrel Hato belum mampu mengangkat performa tim. Hingga pekan ke-22, The Blues justru tercecer di peringkat keenam klasemen dengan 34 poin. Hasil buruk tersebut berujung pada pemecatan Enzo Maresca dari kursi pelatih.
Tak hanya di Inggris, dominasi uang juga terasa di Spanyol dan Italia. Klub-klub raksasa di La Liga dan Serie A banyak dimiliki miliarder dengan kemampuan finansial nyaris tak terbatas.
Mengutip laporan GiveMeSport, berikut lima klub dengan total pengeluaran terbesar sepanjang sejarah sepak bola dunia.
5. Real Madrid – Raja Galacticos Spanyol

Persaingan abadi El Clasico membuat Real Madrid dan Barcelona membangun skuad dengan filosofi berbeda. Jika Barcelona mengandalkan akademi La Masia, Real Madrid justru dikenal dengan proyek Galacticos.
Di bawah kendali Florentino Perez, Los Blancos berulang kali memecahkan rekor transfer dunia. Mulai dari Luis Figo (£37 juta), Zinedine Zidane (£46,6 juta), Cristiano Ronaldo (£80 juta), hingga Gareth Bale (£85,3 juta).
Secara total, Real Madrid tercatat menghabiskan sekitar £2,5 miliar atau setara Rp56,7 triliun, menjadikannya klub paling boros di Spanyol sepanjang masa.
4. Manchester United – Belanja Panik Era Pasca-Ferguson

Pada era Sir Alex Ferguson, belanja Manchester United dikenal efisien dan tepat sasaran. Namun, situasi berubah drastis setelah kepergian sang manajer legendaris.
Di bawah kepemilikan keluarga Glazer, MU kerap melakukan pembelian panik. Salah satu contoh paling mencolok adalah transfer Antony senilai £85 juta pada 2022, padahal tim rekrutmen awalnya menilai sang pemain hanya £25 juta.
Akumulasi kesalahan transfer tersebut membuat total pengeluaran Setan Merah membengkak hingga £2,71 miliar atau sekitar Rp61,5 triliun.
3. Juventus – Ambisi Besar yang Menguras Kas

Juventus menjadi klub paling boros dalam sejarah Serie A. Total belanja Si Nyonya Tua mencapai £3,1 miliar atau setara Rp70,3 triliun.
Dua transfer paling ikonik mereka adalah Gonzalo Higuain (£75,3 juta) dari Napoli dan Cristiano Ronaldo (£99,2 juta) dari Real Madrid. Meski sempat menghadirkan trofi, kebijakan belanja agresif tersebut juga meninggalkan lubang besar di neraca keuangan klub.
2. Manchester City – Era Emas Berbalut Dana Tak Terbatas

Sejak diambil alih Abu Dhabi United Group pada 2008, Manchester City menjelma menjadi kekuatan dominan di Inggris. Dukungan finansial luar biasa memungkinkan Pep Guardiola membangun skuad nyaris sempurna.
City telah menghabiskan sekitar £3,39 miliar atau Rp76,9 triliun. Transfer Jack Grealish (£100 juta) dan Kevin De Bruyne (£54,5 juta) menjadi simbol ambisi klub.
Meski masih dibayangi 115 tuntutan hukum, City tetap aktif di bursa transfer, termasuk mendatangkan Antoine Semenyo dan Marc Guehi pada Januari lalu.
1. Chelsea – Raja Belanja Dunia Sepak Bola

Chelsea menjadi klub dengan total pengeluaran terbesar sepanjang sejarah sepak bola dunia. Rekor belanja mereka mencapai £3,74 miliar atau sekitar Rp84,9 triliun.
Era Roman Abramovich hingga Todd Boehly sama-sama identik dengan pembelian mahal. Chelsea bahkan memecahkan rekor transfer Inggris dua kali dalam satu musim lewat Enzo Fernandez (£106 juta) dan Moises Caicedo (£115 juta).
Meski beberapa transfer gagal, keberhasilan merekrut Cole Palmer senilai £40 juta menjadi bukti bahwa investasi besar tetap bisa membuahkan hasil jika tepat sasaran.
Uang Banyak, Gelar Belum Tentu
Deretan angka fantastis tersebut menegaskan satu hal: uang memang penting, tetapi bukan segalanya. Tanpa perencanaan matang, strategi rekrutmen yang tepat, dan manajemen yang solid, triliunan rupiah bisa habis tanpa prestasi.
Di sepak bola modern, keseimbangan antara finansial dan visi jangka panjang tetap menjadi kunci utama kesuksesan.
One thought on “Chelsea Nomor Satu! Uang Rp84 Triliun Digelontorkan, Tapi Prestasi Kok Begini?”