Masa depan MotoGP dinilai tak cukup jika hanya bertumpu pada kualitas balapan di lintasan. Pandangan tersebut disampaikan Davide Brivio, figur berpengalaman yang kini menjabat sebagai prinsipal Trackhouse Racing, saat membahas arah perkembangan MotoGP dalam jangka panjang.
Nama Brivio bukan sosok asing di dunia balap motor. Pria asal Italia itu pernah menjadi arsitek kesuksesan Valentino Rossi bersama Yamaha, serta membawa Joan Mir meraih gelar juara dunia MotoGP 2020 bersama Suzuki. Setelah sempat mencicipi atmosfer Formula 1, Brivio kembali ke paddock roda dua dengan bergabung bersama Trackhouse sejak musim 2024.
Isu mengenai arah baru MotoGP mencuat sejak Liberty Media resmi mengakuisisi saham mayoritas pemegang hak komersial MotoGP, Dorna Sports, pada Juni tahun lalu. Meski demikian, Brivio menegaskan bahwa perubahan besar belum terasa dalam operasional sehari-hari.
“Kami tahu Liberty sekarang menjadi pemegang saham terbesar Dorna. Tetapi dalam praktiknya, kami masih bekerja dengan struktur yang sama, dengan Dorna, Carmelo Ezpeleta, Carlos Ezpeleta, dan orang-orang yang sama,” ujar Brivio.
BACA JUGA ; Juventus Mengamuk! Hajar Cremonese 5-0, McKennie dan Thuram Tetap Rendah Hati
MotoGP Ingin Keluar dari Bayang-bayang Eropa
Di balik stabilitas struktur tersebut, Liberty Media dan Dorna diyakini menyimpan ambisi besar. Carlos Ezpeleta sebelumnya menegaskan keinginan MotoGP untuk keluar dari kesan terlalu Eropa-sentris, memperluas daya tarik pembalap di luar lintasan, serta menarik sponsor non-motorsport.
Langkah itu mencakup membawa MotoGP ke ruang-ruang yang lebih luas, mulai dari dunia fesyen dan musik hingga bandara dan pusat perbelanjaan. Menurut Brivio, pendekatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan MotoGP saat ini.
“Dari sisi olahraga, MotoGP sudah sangat bagus. Tentu selalu bisa ditingkatkan, tetapi secara dasar kualitasnya sudah tinggi,” jelasnya.
“Tantangannya adalah bagaimana menjangkau audiens yang lebih luas, masuk ke negara-negara baru yang potensial, meningkatkan keterlibatan penggemar, dan menarik lebih banyak publik,” lanjut Brivio.
MotoGP sebagai Olahraga dan Hiburan
Brivio menyadari, pandangan ini mungkin tidak sepenuhnya diterima oleh penggemar fanatik. Namun ia menegaskan bahwa olahraga modern tak bisa dilepaskan dari unsur hiburan.
“Mungkin para pencinta olahraga murni tidak suka mendengar ini, tetapi di era sekarang, olahraga juga adalah hiburan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa memperkuat aspek hiburan bukan berarti mengorbankan esensi balapan MotoGP. Justru, hal tersebut diperlukan agar MotoGP dapat dinikmati oleh lebih banyak kalangan.
“Bagi kami yang mencintai balap motor, MotoGP sudah sangat menarik. Tapi kami juga harus membuka pintu bagi orang-orang yang mungkin tidak tergila-gila dengan MotoGP, namun tetap ingin datang, melihat paddock, dan menikmati atmosfernya,” ucap Brivio.
Untuk memperjelas pandangannya, Brivio membandingkan MotoGP dengan olahraga global lain seperti sepak bola dan NBA.
“Saat Anda menonton Liga Champions, Anda datang bukan hanya untuk taktik, tetapi juga untuk atmosfer stadion dan pengalaman menontonnya. Begitu juga NBA, banyak keluarga datang, makan, minum, menikmati pertandingan, lalu pulang dengan perasaan senang,” jelasnya.
Kunci Keberlanjutan MotoGP
Menurut Brivio, membangun sisi hiburan MotoGP tidak akan menghilangkan nilai teknis balapan. Penggemar fanatik tetap bisa menikmati detail soal ban, mesin, dan strategi, sementara penonton baru tertarik pada pengalaman menyeluruh yang ditawarkan.
“Penggemar sejati tetap bisa menikmati aspek teknis MotoGP. Namun akan ada jauh lebih banyak orang yang berkata, ‘Oke, saya mau mencoba menonton MotoGP juga’,” katanya.
Ia menilai Dorna dalam setahun terakhir mulai memberi perhatian lebih pada aspek hiburan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan.
“Inilah cara MotoGP bisa bertahan, membenarkan perjalanan keliling dunia, dan menjadi berkelanjutan secara ekonomi,” ujar Brivio.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan CEO Ducati, Claudio Domenicali, yang juga melihat MotoGP sebagai industri hiburan.
“Kami tidak melihat diri kami hanya sebagai produsen motor, tetapi sebagai perusahaan hiburan,” kata Domenicali.
Menurutnya, potensi pertumbuhan MotoGP masih sangat besar, terutama jika mencontoh keberhasilan Formula 1 dalam memperluas basis penggemar, khususnya di Amerika Serikat.
“Jika semua tim MotoGP bisa bekerja sama untuk membangun basis penggemar yang lebih besar, potensinya akan luar biasa,” pungkas Domenicali.

One thought on “Davide Brivio: Masa Depan MotoGP Tak Bisa Hanya Andalkan Balapan di Lintasan”