Final Piala Afrika 2025 yang seharusnya menjadi panggung kejayaan Senegal justru meninggalkan catatan kelam. Laga puncak melawan tuan rumah Maroko diwarnai insiden panas yang berujung kecaman keras dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, meski Senegal akhirnya keluar sebagai juara.
Kemenangan Senegal Tercoreng Drama Penalti
Senegal memastikan gelar juara Piala Afrika 2025 setelah menang tipis 1-0 atas Maroko melalui gol Pape Gueye di babak tambahan. Namun, kemenangan tersebut terasa pahit karena diwarnai drama besar di menit-menit akhir waktu normal.
BACA JUGA ; Resmi! Ini Daftar Lawan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Kontroversi bermula saat wasit menghadiahkan penalti kepada Maroko pada penghujung laga. Keputusan tersebut langsung memicu protes keras dari para pemain dan ofisial Senegal yang menilai keputusan wasit tidak adil.
Pemain Senegal Tinggalkan Lapangan, Laga Terhenti

Situasi memanas ketika para pemain Senegal memilih meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Aksi tersebut membuat pertandingan terhenti selama lebih dari 15 menit, diiringi keributan di sekitar perangkat pertandingan dan ketegangan di tribun stadion.
Insiden itu menjadi salah satu momen paling kontroversial sepanjang turnamen, sekaligus mencoreng atmosfer laga final yang seharusnya menjadi pesta sepak bola Afrika.
Penalti Maroko Gagal, Senegal Bangkit di Extra Time
Setelah laga kembali dilanjutkan, Maroko mendapat peluang emas untuk menentukan kemenangan. Namun, Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti setelah tendangan panenkanya dengan mudah dibaca oleh kiper Senegal, Edouard Mendy.
Momentum itu menjadi titik balik. Pertandingan berlanjut ke babak tambahan, di mana Senegal tampil lebih tenang dan akhirnya memastikan kemenangan lewat gol Pape Gueye, yang mengantarkan mereka ke tangga juara.
Gianni Infantino Murka: “Itu Tidak Bisa Diterima”
Presiden FIFA, Gianni Infantino, tidak menyembunyikan kekecewaannya. Meski tetap mengucapkan selamat kepada Senegal atas gelar juara, Infantino secara terbuka mengecam keras perilaku yang terjadi di lapangan dan tribun.
“Kami menyaksikan adegan yang tidak bisa diterima, baik di lapangan maupun di tribun. Kami mengutuk keras perilaku sebagian suporter, serta sejumlah pemain dan staf teknis Senegal,” ujar Infantino.
Ia menambahkan, “Meninggalkan lapangan dengan cara seperti itu tidak dapat diterima. Kekerasan tidak punya tempat dalam sepak bola. Itu jelas salah.”
FIFA Tegaskan Hormat Wasit adalah Fondasi Sepak Bola
Infantino menekankan bahwa menghormati keputusan wasit adalah prinsip utama dalam sepak bola.
“Jika prinsip ini diabaikan, maka esensi sepak bola itu sendiri berada dalam ancaman serius,” tegasnya, seraya menegaskan komitmen FIFA menjaga nilai sportivitas di setiap kompetisi.
CAF Siapkan Sanksi, Rekaman Insiden Dikaji
Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) juga langsung bereaksi atas kekacauan di partai final tersebut. Dalam pernyataan resminya, CAF mengecam tindakan tidak pantas dari sejumlah pemain dan ofisial.
“CAF mengecam perilaku yang tidak dapat diterima dari beberapa pemain dan ofisial. Seluruh rekaman sedang dikaji dan kasus ini akan dirujuk ke badan berwenang untuk tindakan yang sesuai terhadap pihak-pihak yang dinyatakan bersalah,” tulis CAF.
Gelar Juara yang Disertai Catatan Hitam

Senegal memang berhasil mengangkat trofi Piala Afrika 2025, namun insiden di final membuat pencapaian tersebut dibayangi kontroversi. Proses disipliner yang akan dijalankan CAF berpotensi memberi konsekuensi serius, sekaligus menjadi pengingat bahwa sportivitas tetap menjadi harga mati di sepak bola, bahkan di laga sebesar final Piala Afrika.
One thought on “Final Piala Afrika 2025 Diwarnai Kontroversi, Gianni Infantino Kecam Aksi Senegal”