Manchester United tampaknya akhirnya menemukan sosok yang mampu menghadirkan ketenangan di bawah mistar gawang. Kiper muda asal Belgia, Senne Lammens, perlahan menjelma menjadi figur penting dalam skuad Setan Merah sejak didatangkan dari Royal Antwerp pada bursa transfer musim panas lalu.
Transfer Lammens senilai 18,1 juta pound sterling awalnya tidak banyak menarik perhatian publik. Namun seiring berjalannya musim, performa kiper berusia 23 tahun tersebut justru menjadi salah satu faktor penting yang membantu stabilitas lini belakang Manchester United.
BACA JUGA ; Hasil Undian Piala AFF U-17 2026: Indonesia Satu Grup dengan Vietnam dan Malaysia
Kehadiran Lammens terasa sangat kontras dibandingkan dua penjaga gawang sebelumnya, Andre Onana dan Altay Bayindir. Kedua kiper tersebut beberapa kali tampil tidak konsisten dan melakukan kesalahan yang berujung gol bagi lawan.
Sebaliknya, Lammens mampu memberikan rasa aman bagi lini pertahanan United. Meski baru menjalani debut pada Oktober lalu, ia langsung menunjukkan kualitasnya.

Pada pertandingan debutnya tersebut, Lammens berhasil membantu Manchester United meraih clean sheet pertama musim ini saat mengalahkan Sunderland dengan skor 2-0. Sejak saat itu, posisinya di bawah mistar semakin sulit tergantikan.
Sepanjang musim ini, Lammens telah tampil dalam 23 pertandingan Premier League. Dari jumlah tersebut, ia hanya kebobolan 25 gol dan berhasil mencatatkan lima clean sheet.
Statistik tersebut menjadi modal penting bagi Manchester United yang sedang berupaya kembali bersaing di papan atas klasemen. Target finis di lima besar untuk mengamankan tiket Liga Champions pun masih terbuka berkat stabilnya lini pertahanan.
Namun kontribusi Lammens tidak hanya terlihat dari kemampuannya melakukan penyelamatan. Ia juga menunjukkan kecerdikan dalam membaca situasi pertandingan, termasuk dalam memanfaatkan aturan baru yang diterapkan Premier League musim ini.
Premier League memperkenalkan regulasi baru terkait durasi penjaga gawang memegang bola. Jika sebelumnya batas waktu hanya enam detik, kini kiper diperbolehkan menahan bola hingga delapan detik sebelum mendistribusikannya kembali ke permainan.
Jika batas waktu tersebut dilanggar, wasit berhak memberikan hukuman kepada tim yang bersangkutan. Aturan ini sempat menjadi perhatian ketika kiper Burnley, Martin Dubravka, melakukan pelanggaran di awal pertandingan sehingga wasit Michael Oliver harus mengambil tindakan.
Menariknya, tidak semua penjaga gawang benar-benar memanfaatkan batas waktu tersebut secara maksimal. Namun berbeda dengan Lammens.

Berdasarkan data statistik dari The Athletic, Lammens tercatat sebagai kiper yang paling lama memegang bola di Premier League musim ini. Rata-rata ia menahan bola selama 7,68 detik setiap kali menguasainya.
Angka tersebut hanya terpaut 0,32 detik dari batas maksimal delapan detik yang diperbolehkan oleh aturan liga. Catatan itu bahkan lebih dari satu detik dibandingkan kiper lain yang berada di posisi berikutnya.
Penjaga gawang Brighton, Bart Verbruggen, memiliki rata-rata waktu memegang bola sebesar 6,52 detik, sementara Jordan Pickford mencatatkan angka 6,50 detik.
Sebaliknya, kiper Arsenal, David Raya, justru termasuk yang paling cepat dalam mendistribusikan bola. Ia rata-rata hanya membutuhkan 3,96 detik sebelum mengembalikan bola ke permainan.
Meski terlihat sederhana, cara Lammens mengatur tempo permainan ini dinilai sangat membantu Manchester United. Ia mampu memperlambat ritme pertandingan ketika timnya membutuhkan waktu untuk mengatur posisi kembali.
Performa konsisten Lammens sepanjang musim pun mulai mendapat banyak pujian dari berbagai pihak. Bahkan beberapa pengamat menilai gaya bermainnya mengingatkan pada legenda Manchester United, Edwin van der Sar.
Pelatih Manchester United, Michael Carrick, juga mengakui adanya kemiripan tertentu antara Lammens dan mantan kiper legendaris asal Belanda tersebut. Meski begitu, ia menilai perbandingan tersebut tidak sepenuhnya adil bagi sang pemain muda.
“Ada kemiripan, ya, tetapi saya tidak ingin benar-benar membandingkan mereka karena itu tidak adil bagi Senne,” ujar Carrick.
Menurut Carrick, kualitas utama yang dimiliki Lammens adalah ketenangan dan kemampuannya mengendalikan situasi di lini belakang.
“Bagi saya, seorang penjaga gawang harus bisa diandalkan dan dipercaya. Alih-alih menciptakan kekacauan, Anda ingin dia menghilangkan kekacauan itu dan menenangkan situasi,” jelasnya.

Carrick juga menilai karakter Lammens menjadi salah satu kekuatan terbesar yang dimilikinya sebagai penjaga gawang.
“Dia mungkin terlihat pendiam dan tidak terlalu menonjol, tetapi memiliki keteguhan yang luar biasa. Itu peran yang sangat besar bagi seorang pemain,” tambahnya.
“Ketenangan dan kontrol dirinya sangat membantu pemain-pemain di depannya. Karakter dan kepribadian adalah atribut besar yang harus dimiliki, apalagi saat bermain di klub sebesar ini.”
Jika mampu menjaga konsistensinya hingga akhir musim, bukan tidak mungkin Senne Lammens akan menjadi pilar utama Manchester United dalam jangka panjang, sekaligus melanjutkan tradisi kiper-kiper hebat yang pernah dimiliki klub tersebut.
One thought on “Senne Lammens Jadi Tembok Baru Manchester United, Kiper Muda Ini Disebut Mirip Edwin van der Sar”