Ketegangan politik kembali merambah dunia sepak bola internasional. Dalam Kongres FIFA ke-76 yang digelar di Vancouver, Kanada, Kamis (30/5/2026), Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, menolak berjabat tangan dengan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel, Basim Sheikh Suliman.
BACA JUGA ; Sanksi Berat Komdis PSSI Usai Kericuhan EPA U-20: Fadly Alberto Dihukum 3 Tahun, Bhayangkara Ajukan Banding
Insiden ini terjadi di atas panggung kongres setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengundang kedua perwakilan untuk kembali naik dan mencoba menjembatani perbedaan yang mencuat dalam diskusi sebelumnya.
Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Tidak ada jabat tangan maupun sesi foto bersama antara kedua pihak, mencerminkan ketegangan yang masih kuat di antara mereka.
Dalam upaya meredakan situasi, Infantino menyampaikan gagasan untuk menggelar turnamen usia muda sebagai simbol persatuan. Ia mengusulkan penyelenggaraan turnamen U-15 yang akan melibatkan seluruh anggota FIFA.
“Kita akan bekerja sama untuk memberikan harapan kepada anak-anak. Kita akan mengadakan turnamen U-15 yang indah, mengundang semua 211 negara,” ujar Infantino di hadapan peserta kongres.
Setelah menyampaikan pidatonya, Infantino turun dari podium dan memeluk kedua perwakilan secara terpisah. Rajoub mendapat sambutan tepuk tangan meriah saat kembali ke tempat duduknya.
Dalam sesi kongres, Rajoub juga menyampaikan kritik keras terhadap FIFA yang dinilainya belum mengambil tindakan tegas terhadap Israel. Ia menyoroti keberadaan klub-klub yang berafiliasi dengan federasi Israel namun beroperasi di wilayah Palestina tanpa persetujuan.
Rajoub menyebut temuan dari komite disiplin FIFA menunjukkan adanya pelanggaran serius, termasuk terkait diskriminasi, netralitas politik, dan tata kelola organisasi.
“Kami meminta agar investigasi diselesaikan dan keputusan yang jelas diambil. Fakta-fakta sudah tidak lagi teoritis,” tegasnya.
Dalam wawancara terpisah, Rajoub menjelaskan alasan di balik penolakannya berjabat tangan. Ia menilai tindakan tersebut berkaitan dengan sikap moral dan kondisi yang dialami rakyat Palestina.
“Bagaimana saya bisa berjabat tangan atau berfoto dalam situasi seperti ini?” ujarnya.
Ia juga menyoroti aktivitas liga Israel di wilayah yang menurutnya merupakan wilayah pendudukan, dan meminta FIFA untuk menghentikan pendanaan serta penyelenggaraan kompetisi di area tersebut.
Peristiwa ini menjadi sorotan global karena kembali menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat memengaruhi hubungan di panggung olahraga internasional. Di tengah upaya FIFA mempromosikan persatuan melalui sepak bola, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan politik masih menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan.
One thought on “Momen Tegang di Kongres FIFA: Presiden Federasi Palestina Tolak Jabat Tangan Perwakilan Israel”